Aku mencari-cari. Aku mencari sosok dirimu. Mengikuti sejejak demi
sejejak langkahmu. Membaui bayang demi bayang. Semuanya menuntunku pada
satu tempat yang sepertinya tak asing lagi.
Di tempat itu aku melihat ke sekeliling, terhampar padang ilalang
membuat mata memincing. Matahari oranye melukiskan siluet wajah yang aku
kenal. Bukan kamu.
Aku mencari lagi, ke tempat bumi tak berputar lagi. Tempat di mana
yang berkuasa hanyalah hati. Namun apa yang aku dapat? Masih kamu, dalam
bayangan.
Aku membuka pintu usang, di baliknya hanya jurang. Aku melihat ke
dalamnya. Tidak tidak. Aku menatap jurang itu. Aku tahu aku pernah
bertemu dan menatap sedalam ini. Ya, matamu.
Di dasarnya aku menemukan kamu. Kamu yang dulu.
Dan kini kita, hanyalah sisa-sisa rasa putus asa.
Kamu tidak tahu apa-apa tentang degup tak berirama ini. Degup jantung
yang seraya seperti akan meledak ketika kamu memanggil namaku pertama
kalinya dengan benar. Ya, pertama kalinya kamu memanggil namaku tanpa
salah eja, posisi hurufnya tersusun dengan rapi. Tak seperti posisi
jantung ini yang sepertinya sudah berada di luar.
Aku, dengan lebih sigap dari seekor ibu tupai yang anaknya sedang
diancam anjing, melompat mendekatimu, menanyakan ada apa. Kekuatan
langit apa yang bisa membuatmu melakukan hal semacam tadi, memanggilku,
dengan benar pula. Aku selalu penasaran dengan segala hal tentang kamu
-meski aku sudah tahu dengan mengandalkan segala kemampuan
‘detektifku’-, akan tetapi aku tetap saja kehausan kabar tentang kamu.
Kamu mengajak aku ke suatu tempat, yang katamu menjadi tempat favorit
ketika ingin mengobrol hal serius dan sedikit berbau rahasia.
Tentu dalam sekejap aku merasa lebih spesial dari sepotong martabak
telur dengan komposisi dua telur. Aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya
akan kamu beritahukan. Jantungku sepertinya sudah tidak berada di
tempat, tetapi aku masih bisa merasakan detaknya yang kencang. Tebakan
demi tebakan melintasi pikiranku. Sekuen demi sekuen yang mungkin
terjadi lewat begitu saja tanpa permisi.
Dan sampai akhirnya kamu dan aku duduk berdua, saling tatap, seperti
yang selama ini aku impikan, aku bayangkan namun tak terwujudkan. Selama
ini memang seperti ini keadaan yang aku rencanakan untuk mengungkap
cinta kepadamu. Lengkap dengan lampu kekuningan yang agak redup ini.
Namun aku masih penasaran apa yang ingin kamu katakan, apakah seperti
apa yang selama ini aku rasakan.
Aku menunggu beberapa patah kata yang akan terucap dari mulut mungilmu
itu, tentu masih sambil menahan diri untuk tidak pingsan. Kamu terlihat
begitu gugup, kemudian menarik napas panjang. Dan akhirnya kamu angkat
bicara.
“Aku suka temanmu. Bagaimana aku supaya bisa dekat dengannya? Bantu aku.”
Aku tersenyum getir.
Selanjutnya, aku habiskan hari itu dengan berjalan sendirian.
Tak ada malam yang lebih menyesakkan dari malam-malam yang aku lalui setelah hari itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar