Minggu, 20 Oktober 2013

AKU INGIN...

AKU INGIN :

*ada dibelantara pelangi. Menjilatinya satu per satu hingga nafasku menjelma puisi...

*menjadi pasangan atas sepatu yg hilang, supaya dia tidak terlihat egois dan sendirian..

*menjadi semangat atas perunggu. Agar dari yang ke-tiga, dia dapat segera menjadi nomor satu...

*melebur menjadi debu, lalu hinggap di pori-porimu

*kenyataan dari ribuan kisah di setiap kitab. Agar tidak hanya menjadi santapan rayap..

*menari dengan irama jantungmu. Lalu menghentakannya, agar kamu merasa...ada aku disana.

Sabtu, 19 Oktober 2013

MAAF

Dalam setiap kosong, ada kamu disetiap sudut.
Siap memeluk, aku yang bermata basah setiap usai bercinta dengan kalut.

Dalam setiap sunyi sekalipun, kamu adalah sosok dengan bunyi irama paling nyaring.
Berusaha agar telingaku tak hanya mampu menangkap hening.

Saat setiap raga enggan mempersilahkan sepasang matanya menangkap aku,
tidak ada seorangpun rela membinarkan pandangannya, selain kamu.

Saat alam raya mengering hingga aku harus menahan panjangnya dahaga,
lagi-lagi kamu membawakan air di kedua telapak tanganmu, dengan sederhana.

Satu-satunya alasan kenapa aku tak mampu memberikan cinta,
hanya kerena KAMU, bukan DIA...

Menunggu...

Kalian pernah tau rasanya terjaga hingga menjadi saksi, dari lahirnya matahari?
Bermata terbuka ditemani keringat yang tidak menetes itu cukup mengganggu, setidaknya hari ini.

Aku merasakan sunyi paling bising dengan pipi yang basah.
Menatap kotak berisi gambar bergerak, tidak dengan maksud atau seperti kehilangan alasan untuk tidak beranjak.
Tapi tidak satupun dari apa yang mereka bicarakan atau lakukan didalam televisi itu aku pahami, aku hanya ingin
memastikan, aku punya kegiatan.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Aku Masih Mengenangnya

"Apa kau butuh waktu untuk menyendiri? Mungkin kita terlalu lama atau kau mungkin terlalu sedih, selalu bersama-sama."
 
Aku mengenalmu sebagai wanita berparas jelita. Sorot mata yang teduh semakin menegaskan keanggunan di wajahmu. Ada tahi lalat di sekitar dagu - memang, tapi membuat senyum simpul di wajahmu terlihat lucu. Dulu aku sering menggoda tahi lalatmu itu. "Af, kamu ini gimana sih? Masa ada lalat di muka enggak kerasa? Jadinya dia buang air di situ kan?" Seketika cubit manja menyerang pinggangku. Sementara aku terkekeh melihat wajahmu yang memerah malu.

Pernah di lain kesempatan giliran kamu menggodaku. "Al, waktu kamu lahir pasti kamu sedang merasakan sakit teramat. Sebab lehermu terbelit ari-ari. Matamu yang besar dan melotot menegaskan hal itu." Seketika jitakan dari kepalan tanganku mendarat di kepalamu. Dan kamu mengaduh merasakan sakit. Aku meminta maaf setelah itu.

Pernahkah kamu?

Pernahkah kamu? Duduk menyendiri di sebuah tempat paling sepi. Seperti beranda rumah saat malam hari. Atau pergi ke sebuah bukit pegunungan. Atau berkunjung ke sebuah pantai yang jarang didatangi orang. Menyepi di antara bising kehidupan orang-orang yang riuh menggemakan suara-suara penderitaan.

Pernahkah kamu? Membiarkan pikiran melayang jauh. Pada kenangan-kenangan. Pada cerita-cerita masa silam. Pada lagu-lagu yang sering mengalun merobek kesunyian. Pada buku-buku yang membuat imaji mengawan terbang. Pada setiap pelajaran dari bait kisah yang pernah terlewatkan. Pada harapan-harapan yang terbentang di waktu mendatang.

Kepergian, Kehilangan

"Siapa memulai? Entah. Tiba-tiba terhenti. Sudah. Lantas kemudian pergi. Enyah. Menyisakan luka kehilangan. Musnah.”

Petang mulai temaram kini. Jingga senja terlalap pekat hitam langit malam yang memuntahkan hujan. Menyisakan genangan basah juga aroma petrichor yang begitu sengit menusuk hidung. Menjadi lebih sunyi ketika kenangan tentangmu pelan-pelan mengetuk dadaku. Membawa serta kerinduan yang selama ini tak pernah bisa kulupakan. Tempias langit memang sudah lama berhenti, tapi hati masih begitu kuyup oleh tangis keresahan yang meraung sesenggukan memanggil namamu.

Jumat, 27 September 2013

Disini Tanpa Kamu

Aku tau apa yang aku lakuin salah
mencintai kamu..
Dalam perihal Cinta, Logika ngga pernah setuju
Dalam perihal Rindu, Gengsi ngga pernah tunduk
meski disini tanpa kamu, melihat senyum kamu bikin aku merasakan tak sendiri
Ada kamu disini...
Di hati ini..
Meski juga dihatinya ...
Memang kita yang besar bukan dinilai dari seberapa lama memendamnya
tapi seberapa berani mengungkapkannya dengan indah
tapi apa daya? aku bukan ngga berani ungkapin ini.