Pernahkah
kamu? Duduk menyendiri di sebuah tempat paling sepi. Seperti beranda
rumah saat malam hari. Atau pergi ke sebuah bukit pegunungan. Atau
berkunjung ke sebuah pantai yang jarang didatangi orang. Menyepi di
antara bising kehidupan orang-orang yang riuh menggemakan suara-suara
penderitaan.
Pernahkah kamu? Membiarkan pikiran melayang jauh.
Pada kenangan-kenangan. Pada cerita-cerita masa silam. Pada lagu-lagu
yang sering mengalun merobek kesunyian. Pada buku-buku yang membuat
imaji mengawan terbang. Pada setiap pelajaran dari bait kisah yang
pernah terlewatkan. Pada harapan-harapan yang terbentang di waktu
mendatang.
Pernahkah kamu? Merasa sepi di dalam kepala sendiri.
Saat begitu banyak alasan untuk berbahagia, tapi kesunyian begitu kukuh
untuk menolaknya. Saat di mana alasan untuk tersenyum tak mampu menahan
pikiran dalam berkonspirasi untuk mencipta wajah-wajah murung.
Pernahkah
kamu? Benar-benar merasa tak lagi memiliki arti. Ketika makna-makna
yang pernah tercipta tak lagi membuatmu berdaya. Ketika kesempatan atas
kebahagiaan hidup tak lagi memaksa jiwa untuk berlelah-lelah mendakinya.
Saat di mana kekecewaan begitu telak menelanmu bulat-bulat dalam lubang
pengap bernama keputusasaan.
Aku pernah merasakan itu.
Saat
di mana kesedihan tak lagi menakutkan. Suatu masa ketika langkah kaki
terasa tak lagi berpijak di tempat yang sama. Satu waktu ketika setiap
kisah yang tercipta sama sekali tak mewakilkan damba.
Aku tak
lagi memiliki kehidupan. Kehidupan sudah lama pergi sejak engkau
melangkah berlalu. Meninggalkanku yang sangsi dalam gigil sepi paling
rindu.
"Sepeninggalmu, aku lupa bagaimana cara berbahagia."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar