"Siapa memulai? Entah. Tiba-tiba terhenti. Sudah. Lantas kemudian pergi. Enyah. Menyisakan luka kehilangan. Musnah.”
Petang mulai temaram
kini. Jingga senja terlalap pekat hitam langit malam yang memuntahkan
hujan. Menyisakan genangan basah juga aroma petrichor yang begitu sengit
menusuk hidung. Menjadi lebih sunyi ketika kenangan tentangmu
pelan-pelan mengetuk dadaku. Membawa serta kerinduan yang selama ini tak
pernah bisa kulupakan. Tempias langit memang sudah lama berhenti, tapi
hati masih begitu kuyup oleh tangis keresahan yang meraung sesenggukan
memanggil namamu.
Kepergian dan kehilangan
adalah kenangan menjemukan. Aku sudah terlalu bosan menikmati malam
dengan cerita-cerita kesedihan. Hingga air mata sudah terlalu jenuh
untuk merintik. Hingga lisan sudah terlampau kelu untuk mengucap keluh.
Hingga tangis dan dendam tak lagi berarti banyak untuk menghadirkan
tiadamu dalam setiap beradaku. Toh sekuat apapun aku berusaha,
kesepianku tak benar-benar mampu membuatmu kembali datang dan
terpeluk. Ah, kehilangan adalah skenario paling busuk.
Maka, inilah yang aku
lakukan sekarang. Menuliskan setiap ratap kenestapaan dalam menghadapi
kehilangan. Hingga pada akhirnya aku sampai pada sebuah titik
kesimpulan. Ketika aku benar-benar menyadari. Bahwa ikhlas adalah
sebaik-baiknya obat atas kehilangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar