AKU INGIN :
*ada dibelantara pelangi. Menjilatinya satu per satu hingga nafasku menjelma puisi...
*menjadi pasangan atas sepatu yg hilang, supaya dia tidak terlihat egois dan sendirian..
*menjadi semangat atas perunggu. Agar dari yang ke-tiga, dia dapat segera menjadi nomor satu...
*melebur menjadi debu, lalu hinggap di pori-porimu
*kenyataan dari ribuan kisah di setiap kitab. Agar tidak hanya menjadi santapan rayap..
*menari dengan irama jantungmu. Lalu menghentakannya, agar kamu merasa...ada aku disana.
Minggu, 20 Oktober 2013
Sabtu, 19 Oktober 2013
MAAF
Dalam setiap kosong, ada kamu disetiap sudut.
Siap memeluk, aku yang bermata basah setiap usai bercinta dengan kalut.
Dalam setiap sunyi sekalipun, kamu adalah sosok dengan bunyi irama paling nyaring.
Berusaha agar telingaku tak hanya mampu menangkap hening.
Saat setiap raga enggan mempersilahkan sepasang matanya menangkap aku,
tidak ada seorangpun rela membinarkan pandangannya, selain kamu.
Saat alam raya mengering hingga aku harus menahan panjangnya dahaga,
lagi-lagi kamu membawakan air di kedua telapak tanganmu, dengan sederhana.
Satu-satunya alasan kenapa aku tak mampu memberikan cinta,
hanya kerena KAMU, bukan DIA...
Siap memeluk, aku yang bermata basah setiap usai bercinta dengan kalut.
Dalam setiap sunyi sekalipun, kamu adalah sosok dengan bunyi irama paling nyaring.
Berusaha agar telingaku tak hanya mampu menangkap hening.
Saat setiap raga enggan mempersilahkan sepasang matanya menangkap aku,
tidak ada seorangpun rela membinarkan pandangannya, selain kamu.
Saat alam raya mengering hingga aku harus menahan panjangnya dahaga,
lagi-lagi kamu membawakan air di kedua telapak tanganmu, dengan sederhana.
Satu-satunya alasan kenapa aku tak mampu memberikan cinta,
hanya kerena KAMU, bukan DIA...
Menunggu...
Kalian pernah tau rasanya terjaga hingga menjadi saksi, dari lahirnya matahari?
Bermata terbuka ditemani keringat yang tidak menetes itu cukup mengganggu, setidaknya hari ini.
Aku merasakan sunyi paling bising dengan pipi yang basah.
Menatap kotak berisi gambar bergerak, tidak dengan maksud atau seperti kehilangan alasan untuk tidak beranjak.
Tapi tidak satupun dari apa yang mereka bicarakan atau lakukan didalam televisi itu aku pahami, aku hanya ingin
memastikan, aku punya kegiatan.
Bermata terbuka ditemani keringat yang tidak menetes itu cukup mengganggu, setidaknya hari ini.
Aku merasakan sunyi paling bising dengan pipi yang basah.
Menatap kotak berisi gambar bergerak, tidak dengan maksud atau seperti kehilangan alasan untuk tidak beranjak.
Tapi tidak satupun dari apa yang mereka bicarakan atau lakukan didalam televisi itu aku pahami, aku hanya ingin
memastikan, aku punya kegiatan.
Sabtu, 12 Oktober 2013
Aku Masih Mengenangnya
"Apa kau butuh waktu untuk menyendiri? Mungkin kita terlalu lama atau kau mungkin terlalu sedih, selalu bersama-sama."
Aku
mengenalmu sebagai wanita berparas jelita. Sorot mata yang teduh
semakin menegaskan keanggunan di wajahmu. Ada tahi lalat di sekitar dagu
- memang, tapi membuat senyum simpul di wajahmu terlihat lucu. Dulu aku
sering menggoda tahi lalatmu itu. "Af, kamu ini gimana sih? Masa ada lalat di muka enggak kerasa? Jadinya dia buang air di situ kan?" Seketika cubit manja menyerang pinggangku. Sementara aku terkekeh melihat wajahmu yang memerah malu.
Pernah di lain kesempatan giliran kamu menggodaku. "Al,
waktu kamu lahir pasti kamu sedang merasakan sakit teramat. Sebab
lehermu terbelit ari-ari. Matamu yang besar dan melotot menegaskan hal
itu." Seketika jitakan dari kepalan tanganku mendarat di kepalamu. Dan kamu mengaduh merasakan sakit. Aku meminta maaf setelah itu.
Pernahkah kamu?
Pernahkah
kamu? Duduk menyendiri di sebuah tempat paling sepi. Seperti beranda
rumah saat malam hari. Atau pergi ke sebuah bukit pegunungan. Atau
berkunjung ke sebuah pantai yang jarang didatangi orang. Menyepi di
antara bising kehidupan orang-orang yang riuh menggemakan suara-suara
penderitaan.
Pernahkah kamu? Membiarkan pikiran melayang jauh. Pada kenangan-kenangan. Pada cerita-cerita masa silam. Pada lagu-lagu yang sering mengalun merobek kesunyian. Pada buku-buku yang membuat imaji mengawan terbang. Pada setiap pelajaran dari bait kisah yang pernah terlewatkan. Pada harapan-harapan yang terbentang di waktu mendatang.
Pernahkah kamu? Membiarkan pikiran melayang jauh. Pada kenangan-kenangan. Pada cerita-cerita masa silam. Pada lagu-lagu yang sering mengalun merobek kesunyian. Pada buku-buku yang membuat imaji mengawan terbang. Pada setiap pelajaran dari bait kisah yang pernah terlewatkan. Pada harapan-harapan yang terbentang di waktu mendatang.
Kepergian, Kehilangan
"Siapa memulai? Entah. Tiba-tiba terhenti. Sudah. Lantas kemudian pergi. Enyah. Menyisakan luka kehilangan. Musnah.”
Jumat, 27 September 2013
Disini Tanpa Kamu
Aku tau apa yang aku lakuin salah
mencintai kamu..
Dalam perihal Cinta, Logika ngga pernah setuju
Dalam perihal Rindu, Gengsi ngga pernah tunduk
meski disini tanpa kamu, melihat senyum kamu bikin aku merasakan tak sendiri
Ada kamu disini...
Di hati ini..
Meski juga dihatinya ...
Memang kita yang besar bukan dinilai dari seberapa lama memendamnya
tapi seberapa berani mengungkapkannya dengan indah
tapi apa daya? aku bukan ngga berani ungkapin ini.
mencintai kamu..
Dalam perihal Cinta, Logika ngga pernah setuju
Dalam perihal Rindu, Gengsi ngga pernah tunduk
meski disini tanpa kamu, melihat senyum kamu bikin aku merasakan tak sendiri
Ada kamu disini...
Di hati ini..
Meski juga dihatinya ...
Memang kita yang besar bukan dinilai dari seberapa lama memendamnya
tapi seberapa berani mengungkapkannya dengan indah
tapi apa daya? aku bukan ngga berani ungkapin ini.
Rabu, 14 Agustus 2013
Hati ini Menunggu
Lampu pada tulisan “Ruang Tunggu” itu mulai redup, satu-persatu sosok
di dalamnya mulai melangkah keluar. Bukan meraih apa yang mereka
tunggu-tunggu, melainkan melangkah keluar saja. Menyerah.
Aku tak kenal siapa mereka. Namun di bawah kerah kemeja sebelah kirinya tertulis “logika”. Beberapa sosok lainnya aku lupa jelasnya seperti apa, tetapi sepertinya mereka semua bersaudara. Kembar mungkin.
Di sini, di ruang ini, hanya aku yang tersisa. Sendiri. Aku sempat takut dan termakan bujuk rayu mereka yang pergi lebih dahulu. Aku bukan betah duduk di sini dan menunggu, hanya saja sesuatu yang aku tunggu lebih membuatku tak betah jika aku tinggalkan.
Aku tak kenal siapa mereka. Namun di bawah kerah kemeja sebelah kirinya tertulis “logika”. Beberapa sosok lainnya aku lupa jelasnya seperti apa, tetapi sepertinya mereka semua bersaudara. Kembar mungkin.
Di sini, di ruang ini, hanya aku yang tersisa. Sendiri. Aku sempat takut dan termakan bujuk rayu mereka yang pergi lebih dahulu. Aku bukan betah duduk di sini dan menunggu, hanya saja sesuatu yang aku tunggu lebih membuatku tak betah jika aku tinggalkan.
Melangkah Seperti Jarum Detik
“Tolong beri aku waktu! Beri aku kesempatan.”
Kadang kita tak hentinya meminta waktu, meminta kesempatan lagi kepada orang lain, kepada semesta, bahkan kepada Tuhan. Sebuah kesalahan yang sudah kamu lakukan, jika itu diperbuat tanpa ada unsur kesengajaan, hanya mengikuti kata hati, dan itu salah, maka kamu pasti ingin memperbaikinya sepenuh hati.
Namun apa daya? Waktu itu sudah dirancang Tuhan dan dieksekusi semesta berputar searah jarum jam, atau perputaran jarum jam itu sendiri yang mengikuti arah berjalannya waktu. Entahlah, yang pasti waktu terus berjalan, ke depan. Kata “seandainya” takkan pernah habis terlintas dalam benak seseorang yang sudah melakukan kesalahan, tanpa ia sengaja. Kata tersebut sepertinya bergandengan dengan benda nista bernama penyesalan.
Kadang kita tak hentinya meminta waktu, meminta kesempatan lagi kepada orang lain, kepada semesta, bahkan kepada Tuhan. Sebuah kesalahan yang sudah kamu lakukan, jika itu diperbuat tanpa ada unsur kesengajaan, hanya mengikuti kata hati, dan itu salah, maka kamu pasti ingin memperbaikinya sepenuh hati.
Namun apa daya? Waktu itu sudah dirancang Tuhan dan dieksekusi semesta berputar searah jarum jam, atau perputaran jarum jam itu sendiri yang mengikuti arah berjalannya waktu. Entahlah, yang pasti waktu terus berjalan, ke depan. Kata “seandainya” takkan pernah habis terlintas dalam benak seseorang yang sudah melakukan kesalahan, tanpa ia sengaja. Kata tersebut sepertinya bergandengan dengan benda nista bernama penyesalan.
Balasan untuk Jatuh Cinta Diam-Diam
Diam, katanya emas. Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh
cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. Aku tahu!
Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? Karena
‘emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan
kelelahan menebak-nebak.
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.
“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”
“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.
“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”
“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”
Dendam yang Dititipkan pada Tuhan
“Aku sakit hati. Tunggu saja, karma akan membalasmu.”
Sepenggal kalimat tadi sering kita dengar di acara sinetron, atau terdengar dari mulut sendiri atau hati kecil kita.
Karma. Mungkin itu salah satu alasan yang membenarkan kita menjadi seorang pendendam, dengan meminta bantuan semesta, dalam kasus ini, Tuhan. Apakah Tuhan begitu pendendam dengan mengajarkan dendam kepada umat-Nya? Atau Dia hanya berlaku adil? Entah, yang aku tahu, nabi mengajarkan untuk mendoakan yang baik meskipun kepada orang yang berbuat jahat pada kita.
Namun kita hanya manusia biasa. Ya, itu alasan yang paling sering dilontarkan ketika kita tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menjadi manusia yang luar biasa.
Ketika mendapatkan sesuatu yang buruk dari orang lain, kita sering memohon Tuhan ‘membalaskan dendam’ dengan berucap, “Biar Tuhan aja yang balas.”
Bagaimana jika perlakuan buruk itu merupakan balasan ‘dendam’ orang lain yang pernah kita sakiti pula di waktu sebelumnya, yang dia titipkan melalui Tuhan? Sekali lagi, entah.
“Mata harus dibayar dengan mata.” Seorang pendendam biasanya memiliki prinsip seperti itu, atau lebih buruk.
“Mata dibayar dengan mata’ hanya akan membuat dunia (kamu) buta.”
Sepenggal kalimat tadi sering kita dengar di acara sinetron, atau terdengar dari mulut sendiri atau hati kecil kita.
Karma. Mungkin itu salah satu alasan yang membenarkan kita menjadi seorang pendendam, dengan meminta bantuan semesta, dalam kasus ini, Tuhan. Apakah Tuhan begitu pendendam dengan mengajarkan dendam kepada umat-Nya? Atau Dia hanya berlaku adil? Entah, yang aku tahu, nabi mengajarkan untuk mendoakan yang baik meskipun kepada orang yang berbuat jahat pada kita.
Namun kita hanya manusia biasa. Ya, itu alasan yang paling sering dilontarkan ketika kita tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menjadi manusia yang luar biasa.
Ketika mendapatkan sesuatu yang buruk dari orang lain, kita sering memohon Tuhan ‘membalaskan dendam’ dengan berucap, “Biar Tuhan aja yang balas.”
Bagaimana jika perlakuan buruk itu merupakan balasan ‘dendam’ orang lain yang pernah kita sakiti pula di waktu sebelumnya, yang dia titipkan melalui Tuhan? Sekali lagi, entah.
“Mata harus dibayar dengan mata.” Seorang pendendam biasanya memiliki prinsip seperti itu, atau lebih buruk.
“Mata dibayar dengan mata’ hanya akan membuat dunia (kamu) buta.”
Kamu, Jangan Pergi...
Jika kamu pergi, senyum ini untuk siapa lagi? Lalu ke mana larinya
lengkung bibir itu? Hanya menyelinap ke dalam pori-pori mimpi?
Jika kamu pergi, ke mana lagi aku layangkan alunan rindu ini? Ke telinga Cupid yang sudah lumpuh menembakkan panah cintanya kepadamu? Ke jari-jari kedinginan yang tak pernah kamu genggam lagi?
Jika kamu pergi, apa lagi yang bisa aku tulis tentang sayang ini? Tentang ketiadaan kamu? Tentang pundak kosong tak berpenghuni yang merindukan sandaran kamu?
Jika kamu pergi, akan aku lipat menjadi apa kertas yang biasa aku buat menjadi burung atau kupu-kupu kesukaanmu? Atau hanya harus kuubah menjadi mawar yang kelopaknya gugur perlahan? Atau harus kubentuk menjadi sebuah nisan yang di atasnya tertulis kenangan kita?
Jika kamu pergi, ke mana lagi aku layangkan alunan rindu ini? Ke telinga Cupid yang sudah lumpuh menembakkan panah cintanya kepadamu? Ke jari-jari kedinginan yang tak pernah kamu genggam lagi?
Jika kamu pergi, apa lagi yang bisa aku tulis tentang sayang ini? Tentang ketiadaan kamu? Tentang pundak kosong tak berpenghuni yang merindukan sandaran kamu?
Jika kamu pergi, akan aku lipat menjadi apa kertas yang biasa aku buat menjadi burung atau kupu-kupu kesukaanmu? Atau hanya harus kuubah menjadi mawar yang kelopaknya gugur perlahan? Atau harus kubentuk menjadi sebuah nisan yang di atasnya tertulis kenangan kita?
Sampai Kapan Terus Mencari?
Kamu berputar-putar di situ saja. Dari sebuah padang ilalang, ke gurun
yang begitu gersang. Tak puas, kamu berlari lagi, mencari lagi.
Meninggalkan yang belum selesai. Akhirnya hanya mendapati diri kamu
sendiri di tepian jurang.
Mencari yang lebih baik.
Sebuah kalimat yang aku percaya tidak akan ada ujungnya. Mencari yang
lebih baik hanya akan membawamu ke perjalanan tiada akhir. Perjalanan
penuh dengan ketidakpuasan. Rasa haus yang menyiksakan.Aku paham, semua orang ingin sesuatu yang lebih baik. Akan tetapi, ada kalanya kamu harus berhenti, beristirahat, lalu berpikir, “Apakah aku sudah cukup jauh mencari? Atau bahkan terlalu jauh?”
Menunggu yang Pasti Lebih Menyakitkan
Apa yang lebih pahit dari menunggu yang tidak pasti? Adalah menunggu yang pasti, tetapi sudah jelas akan terasa menyakitkan.
Seperti sebuah cinta yang sedang kita jalani. Antara aku dan kamu, yang berbeda dari berbagai sisi. Perbedaan demi perbedaan tidak teratasi, bukan hanya dari dalam tapi juga dari luar diri, semuanya bergumul menjadi emosi.
Ada yang aneh dari hubungan ini. Aku dan kamu tahu ini hanya sementara, ini akan segera berakhir. Akan tetapi, kita tetap memaksakan keadaan. Kita jalani ini seada-adanya.
Aku sudah tahu apa akhir dari hubungan ini, begitu pun kamu. Tapi kita berdua seakan seperti Frodo dan Sam menentang dunia, berdua menyusuri jalan yang mustahil menuju Mordor. Mereka berdua berhasil. Namun kenyataan bukanlah Medieval. Kita bukanlah Hobbit.
Seperti sebuah cinta yang sedang kita jalani. Antara aku dan kamu, yang berbeda dari berbagai sisi. Perbedaan demi perbedaan tidak teratasi, bukan hanya dari dalam tapi juga dari luar diri, semuanya bergumul menjadi emosi.
Ada yang aneh dari hubungan ini. Aku dan kamu tahu ini hanya sementara, ini akan segera berakhir. Akan tetapi, kita tetap memaksakan keadaan. Kita jalani ini seada-adanya.
Aku sudah tahu apa akhir dari hubungan ini, begitu pun kamu. Tapi kita berdua seakan seperti Frodo dan Sam menentang dunia, berdua menyusuri jalan yang mustahil menuju Mordor. Mereka berdua berhasil. Namun kenyataan bukanlah Medieval. Kita bukanlah Hobbit.
Sabtu, 27 Juli 2013
Rindu yang Salah
hey Kerinduan, bagaimana kabarmu?
Masihkah kau ingat aku?
Dan bagaimana keadaan hatimu yg telah terisi sosok yg begitu sangat kau cintai? :)))
Aku merindukanmu, aku merindukan senyuman mu yg menyapa di pagi hari..
Yang mendekap tubuhku disaat aku merasa lelah dengan semuanya :'))
Salahkah jika disaat ini lah aku membutuhkan mu?
Membutuhkan sandaran di bahu ternyamanmu?
Namun aku sadar kau tak bisa membalas kerinduan ini,
sebab orang lain lah yg telah membalas kerinduanku padamu
Tp aku percaya bahwa suatu saat nanti, kau akan menemukan ku di kerumunan orang-orang yg berlalu-lalang kesana kemari....
Dekap aku kerinduan :'))
Masihkah kau ingat aku?
Dan bagaimana keadaan hatimu yg telah terisi sosok yg begitu sangat kau cintai? :)))
Aku merindukanmu, aku merindukan senyuman mu yg menyapa di pagi hari..
Yang mendekap tubuhku disaat aku merasa lelah dengan semuanya :'))
Salahkah jika disaat ini lah aku membutuhkan mu?
Membutuhkan sandaran di bahu ternyamanmu?
Namun aku sadar kau tak bisa membalas kerinduan ini,
sebab orang lain lah yg telah membalas kerinduanku padamu
Tp aku percaya bahwa suatu saat nanti, kau akan menemukan ku di kerumunan orang-orang yg berlalu-lalang kesana kemari....
Dekap aku kerinduan :'))
Kita, Hanya Sisa-Sisa Rasa Putus Asa
Aku mencari-cari. Aku mencari sosok dirimu. Mengikuti sejejak demi
sejejak langkahmu. Membaui bayang demi bayang. Semuanya menuntunku pada
satu tempat yang sepertinya tak asing lagi.
Di tempat itu aku melihat ke sekeliling, terhampar padang ilalang membuat mata memincing. Matahari oranye melukiskan siluet wajah yang aku kenal. Bukan kamu.
Aku mencari lagi, ke tempat bumi tak berputar lagi. Tempat di mana yang berkuasa hanyalah hati. Namun apa yang aku dapat? Masih kamu, dalam bayangan.
Aku membuka pintu usang, di baliknya hanya jurang. Aku melihat ke dalamnya. Tidak tidak. Aku menatap jurang itu. Aku tahu aku pernah bertemu dan menatap sedalam ini. Ya, matamu.
Di tempat itu aku melihat ke sekeliling, terhampar padang ilalang membuat mata memincing. Matahari oranye melukiskan siluet wajah yang aku kenal. Bukan kamu.
Aku mencari lagi, ke tempat bumi tak berputar lagi. Tempat di mana yang berkuasa hanyalah hati. Namun apa yang aku dapat? Masih kamu, dalam bayangan.
Aku membuka pintu usang, di baliknya hanya jurang. Aku melihat ke dalamnya. Tidak tidak. Aku menatap jurang itu. Aku tahu aku pernah bertemu dan menatap sedalam ini. Ya, matamu.
Maaf, Aku Tidak Sengaja
Aku tidak sengaja jatuh cinta. Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang
ketika aku bersama kamu. Dan ketika kamu melihat ke arahku, aku tidak
sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor
lempar lembing yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga kamu
tidak tahu aku sedang memandangmu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu. Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus. Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya. Semuanya tidak sengaja beralasan agar kita tetap bertemu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu. Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus. Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya. Semuanya tidak sengaja beralasan agar kita tetap bertemu.
Jumat, 26 Juli 2013
Aku Ingin Memelukmu
Aku ingin memelukmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini
Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tau dan bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badan mu jauh diatasku
Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kaujalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yg peduli pada perasaanmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini
Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tau dan bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badan mu jauh diatasku
Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kaujalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yg peduli pada perasaanmu
Kasih Tak Sampai
Sejak pertama kali ku melihatmu,
kurasakan ada sesuatu kau juga bilang suka padaku :)
Namun ku coba menerima, hatiku membuka siap untuk terluka..
Tp kau yg slalu memberiku satu harapan indah, yg ternyata kau ingkari sendiri
Dulu kau membuatku jatuh cinta, sekarang cintaku jatuh terbungkam..
Kau memang Pemberi Harapan Palsu :')))
Jangan pernah menangis bila saatnya tiba ku tak disampingmu,
Jangan pernah sesali apa yg tlah terjadi.
Kini ku harus menghilang dan harus pergi ...
Namun seandainya ku mampu mengulang masa laluku agar tak pernah bermimpi tuk mencintaimu :))
Aku tahu diri tak selamanya kita kan bersama, pergilah...
kurasakan ada sesuatu kau juga bilang suka padaku :)
Namun ku coba menerima, hatiku membuka siap untuk terluka..
Tp kau yg slalu memberiku satu harapan indah, yg ternyata kau ingkari sendiri
Dulu kau membuatku jatuh cinta, sekarang cintaku jatuh terbungkam..
Kau memang Pemberi Harapan Palsu :')))
Jangan pernah menangis bila saatnya tiba ku tak disampingmu,
Jangan pernah sesali apa yg tlah terjadi.
Kini ku harus menghilang dan harus pergi ...
Namun seandainya ku mampu mengulang masa laluku agar tak pernah bermimpi tuk mencintaimu :))
Aku tahu diri tak selamanya kita kan bersama, pergilah...
Maaf, Cintaku Harus Terbagi
Sebuah cinta, mestinya seutuhnya.
Tak ada yang lebih menyakitkan dari cinta yang dibagi. Sejatinya, semua orang ingin dicintai secara total. Satu. Kadang cinta tak cukup mencintai satu.
Sebelum yang kamu cintai sekarang, pasti ada orang yang pernah kamu cintai juga. Akan begitu seterusnya. Namun ini semua bukan tentang cinta yang tertinggal, tetapi bagaimana kamu menggunakan cinta yang ada, untuk mencintai dengan penuh.
Percayalah, sebuah cinta akan terisi dengan sendirinya sampai penuh. Kadang sampai luber.
Kenapa Harus Kamu?
Kenapa harus kamu?
yang menghadirkan tanya dan bisu yang menyeringai santai
Kenapa harus kamu?
yang tiba-tiba datang lalu menyelonong masuk masuk kedalam pintu hatiku
Apakah tak ada orang lain selain Kamu?
yang bisa membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka
Aku masih tak tahu dan tak mengerti
Kenapa harus kamu?
yang mengisyaratkan hati untuk menyimpan perasaan ini
Kenapa harus kamu?
yang mampu memaksa otakku agar tak berhenti memikirkanmu
Kenapa harus kita?
Kenapa bukan mereka?
Kenapa aku bertanya?
Kenapa kautak pernah menjawab?
Kenapa kau tak pernah memberiku isyarat?
Aku telah melawan rasa takutku
Hanya untuk mencintaimu
Lalu, kenapa harus kamu?
yang mampu mengubah rasa takutku menjadi sebuah kebranian kecil
mengubah badanku yang menggigil menjadi senyum tipis walau secuil
Jangan biarkan aku terus bertanya, Sayang
Jangan biarkan aku terus mencari hal yang sebenarnya tak ada
Jangan biarkan aku terus merasakan perasaan yg sebenarnya tak kau rasakan
Jangan biarkan aku terus menunggu
jangan biarkan waktuku terus terbuang,
hanya karna kamu yg sulit kulupakan
Kenapa harus kamu?
yang mampu mebuatku melamun sepanjang waktu
Kenapa harus kamu?
yang menjadi sebab air mataku
*Copyright by : Dwitasari
Langganan:
Komentar (Atom)
