Lampu pada tulisan “Ruang Tunggu” itu mulai redup, satu-persatu sosok
di dalamnya mulai melangkah keluar. Bukan meraih apa yang mereka
tunggu-tunggu, melainkan melangkah keluar saja. Menyerah.
Aku tak kenal siapa mereka. Namun di bawah kerah kemeja sebelah
kirinya tertulis “logika”. Beberapa sosok lainnya aku lupa jelasnya
seperti apa, tetapi sepertinya mereka semua bersaudara. Kembar mungkin.
Di sini, di ruang ini, hanya aku yang tersisa. Sendiri. Aku sempat
takut dan termakan bujuk rayu mereka yang pergi lebih dahulu. Aku bukan
betah duduk di sini dan menunggu, hanya saja sesuatu yang aku tunggu
lebih membuatku tak betah jika aku tinggalkan.
Duduk di ruangan sebesar ini sendiri, membuatku terlihat begitu
rakus. Mengenyam semua waktu sendiri. Mendengarkan alunan detak detik
melalui headset, tertegun dan tertunduk. Menunggu pintu yang
berada beberapa langkah di sebelah kiriku terbuka dan sosok di baliknya
berujar, “Berikutnya.”
Pada saat itulah aku akan bangkit dari tempat duduk ini, detak detik
ini tak membuatku tuli karena aku mendengarkan melalui diri sendiri. Aku
akan buka pintu itu dengan lembut, menyambut siluet dengan cahaya lebih
terang di depannya sehingga sosoknya tak begitu jelas terlihat.
Aku begitu yakin dengan sosok itu. Benar saja, sosok itu kamu. Dan
aku akan ceritakan bagaimana penunggu yang lain beranjak pergi,
menyerah. Atau entah melenggang menunggu yang lain. Sebelumnya, akan
kujabat tanganmu, kugenggam erat, kutatap matamu dalam-dalam.
“Perkenalkan, namaku hati.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar